Dalam tradisi Islam, adab bukan sekadar tata krama lahiriah, melainkan cerminan kepribadian seorang muslim sekaligus jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Nilai adab tidak hanya tampak dalam ibadah-ibadah khusus, tetapi juga terwujud dalam aktivitas sederhana sehari-hari, termasuk saat makan. Dari meja makan, seseorang belajar menata niat, membiasakan kesederhanaan, menjaga kebersihan, serta menumbuhkan kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai inilah yang terus ditanamkan di Hibatullah International Islamic Boarding School (IIBS) Bojonegoro, sebuah pesantren yang menjadikan adab sebagai ruh pendidikan.
Setiap aktivitas makan diawali dengan niat yang benar. Santri dibiasakan menyadari bahwa makan bukan semata mengenyangkan perut, melainkan menguatkan tubuh agar mampu belajar dan beribadah dengan optimal. Rasulullah SAW menegaskan bahwa setiap perbuatan bergantung pada niatnya. Kesadaran inilah yang menjadikan aktivitas sederhana bernilai ibadah.
Sebelum makan, kebersihan menjadi perhatian utama. Mencuci tangan bukan hanya bagian dari pola hidup sehat, tetapi juga bentuk ketaatan terhadap tuntunan Nabi. Di lingkungan Hibatullah, kebiasaan ini dilakukan secara disiplin dan konsisten, sehingga santri tumbuh dengan kesadaran bahwa kebersihan adalah bentuk penghargaan terhadap diri dan lingkungan.
Saat makan, santri duduk dengan rapi dan tenang. Rasulullah SAW mencontohkan makan dengan sikap rendah hati, tidak bersandar, dan penuh kesederhanaan. Suasana makan di Hibatullah mencerminkan ketertiban, tidak tergesa-gesa, dan saling menghormati. Santri juga dibiasakan untuk menghargai makanan, tidak mencelanya, serta mengambil secukupnya sesuai kebutuhan. Sikap qona’ah ini melatih rasa syukur dan tanggung jawab sejak dini.

Makan berjamaah menjadi momen penting dalam pendidikan karakter. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa makan bersama membawa keberkahan. Di Hibatullah, kebersamaan ini menumbuhkan sikap peduli, mendahulukan yang lebih tua, serta saling berbagi. Santri terbiasa mengambil makanan yang terdekat, menawarkan kepada teman, dan tidak berlebihan.
Basmalah mengawali, hamdalah mengakhiri. Doa-doa pendek ini dibiasakan agar santri selalu mengingat Allah dalam setiap nikmat yang diterima. Rasulullah SAW bahkan menyampaikan bahwa doa setelah makan menjadi sebab diampuninya dosa-dosa yang telah lalu. Dari sini, santri belajar bahwa rasa syukur adalah kunci keberkahan hidup.
Tata cara makan juga diajarkan dengan detail, menggunakan tangan kanan, memperkecil suapan, mengunyah dengan baik, tidak meniup makanan panas, serta minum secara perlahan. Hal-hal kecil ini melatih kesabaran, ketenangan, dan kontrol diri, nilai penting dalam membentuk pribadi dewasa yang matang secara emosional.
Santri juga dibiasakan menghargai nikmat Allah dengan tidak menyia-nyiakan makanan, membersihkan makanan yang jatuh jika masih memungkinkan, serta menjaga etika selama makan. Tidak berbicara kotor, tidak mengganggu orang lain, dan membersihkan tangan serta mulut setelah selesai makan menjadi bagian dari adab yang terus dilatih.
Seluruh pembiasaan ini menunjukkan bahwa di Hibatullah, pendidikan karakter tidak hanya diajarkan di kelas, tetapi dihidupkan dalam keseharian. Dari meja makan, santri belajar menjadi pribadi yang bersih, santun, peduli, dan penuh rasa syukur. Inilah pendidikan adab yang membekas, membentuk akhlak, dan menjadi bekal sepanjang kehidupan.